Selasa, 01 April 2014

Lontong



Saya tidak tahu pasti dari mana asal makanan yang bahannya dari beras ini, namun saya menduga dari ujung barat sampai ujung timur pulau Jawa masyarakatnya mengenal makanan yang pembungkusnya dari daun pisang ini.  Ada model lain dari makanan jenis  ini, cuma dengan pembungkus dari “blarak” atau daun kelapa, namanya ketupat, tapi lontong sepertinya lebih mudah ditemui di keseharian. Dan  saya akrab dengan ketupat—saya kira—hanya karena kagum dengan bungkusnya yang unik dan namanya yang seakan tak bisa dipisahkan dengan perayaan Hari Raya Iedul Fitri, tapi dalam hal  menikmati, bisa dibilang—kalau kata Orang Betawi: lontong gue banget.


Mungkin karena ribet, dimana musti membuat bungkus makanan dari daun kelapa dengan cara  menyulam, maka di keluarga saya hampir tak pernah membuat ketupat. Setiap Lebaran pasti yang terhidang lontong, maka ketika memakan ketupat ada sesuatu yang dirasa-rasa tak enak di hati. Warna hijau pengaruh daun pisang, bentuknya yang berupa irisan-irisan berbentuk bulat juga menimbulkan sensasi tersendiri. Dan lontong lebih lunak dari ketupat.

Sebenarnya dalam penyebutan, istilah lontong atau ketupat biasa rancu karena bisa saja orang menyebut ketupat padahal lontong. Di hari lebaran yang khas dengan ketupat, orang-orang akan lebih mudah mengucap ketupat walaupun yang ada dihadapan mereka adalah lontong. Tapi pasti, tak ada orang menyebut ketupat dengan sebutan lontong. Maka, coba saja diperhatikan, ada istilah ketupat sayur dan lontong sayur di Jakarta, saya yakin ini muncul dari kesadaran bahwa lontong dan ketupat itu berbeda.

Membuat lontong sudah pasti lebih mudah daripada bikin ketupat. Lontong cukup dengan daun pisang digulung membentuk pipa yang ukuran panjang dan diameternya bisa sesuai selera. Setelah membentuk pipa salah satu ujungnya dilipat lalu dikunci dengan lidi. Kemudian beras dengan takaran tertentu dimasukan lewat sisi yang masih terbuka, lalu dikunci dengan cara yang sama.  Bandingkan dengan ketupat, dan saya yang tak pernah membuatnya karena selalu gagal setiap kali belajar membuat anyaman dari daun kelapa berbentuk kotak itu jelas tak akan menerangkan detil proses pembuatannya di sini. Walaupun bagi anda yang mahir membuatnya pasti geli membaca uraian saya ini.

Biasanya merebus beras yang berada dalam bungkus daun pisang ini menghabiskan waktu empat sampai lima jam. Api harus besar dan air rebusannya tak boleh berkurang, jadi selama perebusan kondisi airnya terus dikontrol dan ditambah lagi ketika menyusut. Saya tidak tahu apakah bisa kurang dari waktu yang saya sebutkan itu, yang pasti pengalaman saya merebus lontong dengan bahan bakar kayu begitu adanya.

Dan terakhir bikin lontong adalah kemarin saat longweekend. Saat itu di rumah ada acara Jamiyah Mingguan, dan brekat-nya adalah lontong sayur. Apakah ada yang tak mengenal lontong dan belum pernah merasainya? Cobalah bikin dan nikmati sensasinya, jangan terlalu asyik makan singkong rebus sama tikus panggang.


1 komentar:

  1. gambar-gambarnya mohon diperbanyak dan preslist (daftar harga)
    apa aja yang di jual.hehe

    BalasHapus